Rabu, 23 November 2011

Pembacaan Hadits Ba'da Isya 21112011


Hukum  Merintih  Ketika  Sakit.
 
 
            Bagi orang sakit, ia diperbolehkan untuk mengadukan rasa sakit yang sedang di deritanya kepada dokter ataupun kerabatnya, selama hal itu tidak disertai dengan amarah dan putus asa. Pada bagian sebelumnya telah disebutkan bahwa Rasulullah pernah berkata, "Aku terkena demam yang tinggi dua kali lipat daripada orang yang terserang demam diantara kalian".
            Sayyidah 'Aisyah juga pernah mengadu kepada Rasulullah atas rasa sakit yang dialaminya. Ia berkata, "Aduh, sakitnya kepalaku", Lalu Rasulullah berkata, "Bahkan kepalaku lebih sakit".
            Suatu ketika Abdullah bin Zuber bertanya kepada Asma' yang saat itu sedang sakit, "Bagaimana keadaanmu ?". Asma' menjawab, "Aku merasakan rasa sakit".
            Bagi orang yang sedang sakit, hendaknya ia memuji kepada Allah terlebih dulu sebelum ia menceritakan apa yang dialaminya kepada orang lain. Ibnu Mas'ud berkata, "Jika rasa syukur dilakukan sebelum ia merintih karenanya, maka hal rintihannya bukan termasuk pengaduan". Dan mengadu kepada Allah merupakan bagian dari ajaran syariat. Nabi Ya'qub berkata, "Hanya kepada Allah aku meng-adukan kesusahanku dan kesedihanku".   (QS. Yusuf [12] : 86)
Rasulullah bersabda, "Ya Allah, sesungguhnya aku mengadukan kepada-Mu atas lemahnya kekuatanku".
            Bagi orang yang sedang sakit, ia akan tetap mendapatkan pahala atas amalan yang biasa dilakukannya semasa ia masih sehat. Imam Bukhari meriwa-yatkan dari Abu Musa al-Asy'ari, bahwasanya Rasulullah bersabda, "Jika seorang hamba sedang sakit atau dalam perjalanan, dicatat baginya sebagaimana ia melakukan amalan yang biasa di lakukannya saat bermukim dan sehat".
 
 
 
Fiqih Sunnah®

Pembacaan Hadits Ba'da Maghrib 21112011


AKHLAK NABI SAW  BILA MELEPAS
KEPERGIAN SESEORANG
 
Nabi SAW apabila melepas kepergian seseorang, menjabat tangannya dan tetap memegang tangannya sebelum orang itu melepaskan tangannya lalu beliau mengucapkan : "Aku serahkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan pungkasan amal perbuatanmu".  (HR. Nasa'i)
 
Syarah/Penjelasan :
            Diantara akhlak Nabi SAW, yang menunjukkan kemuliaan dan kasih sayang-nya ialah bila beliau mengantarkan kepergian seseorang, maka beliau tidak mele-paskan jabatan tangannya dari orang itu, sebelum orang tersebut yang lebih dahulu melepaskannya. Sesudah itu beliau mengucapkan wejangannya, "Aku serahkan kepada Allah agamamu, amanatmu, dan pungkasan amal perbuatanmu".
            Hal seperti itu selalu dilakukan oleh Nabi SAW ketika melepas kepergian seseorang terutama sahabat-sahabatnya. Tidak melepaskan pegangan tangan terle-bih dahulu menandakan kita berat untuk melepas kepergian sahabat atau keluarga kita. Kalau orang yang hendak pergi sudah melepaskan pegangan tangannya hal itu menandakan dia siap untuk berpisah dengan kita. Sebelum orang yang kita sayangi pergi hendaklah kita memberikan pesan yang baik, terutama tausiyah atau nasehat seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.
 
 
INDEKS Hadits & Syarah®

Pembacaan Hadits Ba'da Shubuh 21112011


Bahaya yang Menimpa Nabi SAW
Akibat Ulah Kaumnya
 
 
1165.  Bersumber dari 'Aisyah Radhiyallahu Anha, istri Nabi SAW, bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, apakah Engkau pernah mengalami hari yang lebih menyakitkan dari waktu perang Uhud ?". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh aku tidak mengalami penyiksaan oleh kaummu, dan penyiksaan yang paling pedih adalah yang aku alami pada peristiwa Aqabah. Ketika itu aku mendatangi Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, lalu ia tidak menghiraukan apa yang aku inginkan. Kemudian aku pergi dengan diliputi kegundahan. Ketika aku sampai di daerah Qarnits Tsa'alib (*) (disebut juga Qarnul Manazil), aku angkat kepalaku keatas, tiba-tiba aku berada dibawah awan yang menaungiku. Aku lihat, ternyata disitu ada Jibril. Dia memanggilku, lantas mengatakan, 'Sungguh Allah SWT benar-benar telah mendengar ucapanmu yang dialamatkan kepadamu dan jawaban mereka kepadamu. Allah telah mengutus kepadamu seorang malaikat yang bertugas mengurus gunung yang bisa kamu perintah sesuai dengan kehendakmu'. Kemudian Nabi SAW melanjutkan kisahnya, "Lalu malaikat yang mengurus gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu ia berkata, 'Ya Muhammad, sesungguhnya Allah benar-benar telah men-dengar perkataan kaummu yang dialamatkan kepadamu, dan aku adalah malaikat yang bertugas mengurus gunung. Rabbmu telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan perintahmu kepadaku, lalu apa saja yang engkau kehendaki ?. Kalau engkau mau, aku akan menjatuhkan dua gunung (yaitu gunung Abu Qubais dan gunung yang ada disebelahnya) keatas mereka ?' (**). Kepada malaikat yang mengurus gunung itu, Rasulullah SAW bersabda, 'Justru aku berharap sudi kiranya Allah melahirkan dari mereka itu keturunan yang beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya'"
(Muslim V : 181)
 
(*)            Maksudnya adalah disuatu tempat yang dinamakan nama ini, yaitu miqatnya penduduk Najd,
dinamakan  juga Qarnul Manazil.
 
                (**)           Keduanya adalah gunung yang ada di Mekkah yaitu gunung Abu Qubais dan
gunung yang ada dihadapannya.
 
 
 
1166.  Berasal dari Jundup bi Sufyan ra, ia menuturkan : "Dalam sebagian peperangan jari Rasulullah SAW mengucurkan darah, lalu beliau bersabda (kepada jarinya), 'Kau hanyalah jari yang berdarah, dan apa yang kau rasakan ini dalam rangka membela agama Allah'"
            (Muslim V : 181)
 
 
Ringkasan Shahih Muslim®

Selasa, 22 November 2011

Pembacaan Hadits Ba'da Maghrib 20112011


ORANG  YANG  TIDAK  AKAN MERASAKAN
KESEPIAN KELAK  DI AKHIRAT
 
Bagi orang yang ahli (terbiasa) mengucapkan kalimah Laa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan selain Allah) tiada perasaan terasing baginya sewaktu ia mati, dan tiada pula sewaktu ia didalam kubur, serta tiada pula sewaktu ia dibangkitkan hidup kembali. Seakan-akan aku melihat mereka ketika dibangkitkan hidup kembali sedang mengibaskan tanah dari kepalanya seraya mengucapkan : "Segala puji bagi Allah yang telah melenyapkan kesedihan dari kami".
(Riwayat  Thabrani melalui Ibnu Umar r.a)
 
Syarah/Penjelasan :
            Pengertian, kalimah Laa ilaaha illallaah dalam hadis ini sama dengan hadis-hadis sebelumnya, disertai dengan gandengannya atau kalimah Muhammadar Rasulullaah.
            Beruntunglah orang-orang yang beriman dan rajin berzikir mengucapkan kalimah tauhid karena di dalam kubur mereka tidak akan merasa kesepian, begitu pula ketika dibangkitkan dari kubur. Ketika meninggal pun mereka tidak merasa asing karena banyak malaikat yang mengantarkannya. Pujian mereka sewaktu dibangkitkan dari kubur ialah, "Segala puji bagi Allah yang telah melenyapkan kesusahan dari kami", yakni kesusahan hari kiamat. Manusia yang sudah meninggal tidak akan didampingi oleh siapapun, termasuk oleh orang yang mencintainya. Dia akan seorang diri melanjutkan perjalanan kehidupannya di alam akhirat. Jasad yang banyak dibangga-banggakan selagi hidup dimasukkan kedalam tanah, sepertinya kita akan sangat kesepian, kita hanya berada pada ruangan yang sangat sempit. Tidak ada yang menemani. Namun hal ini tidak berlaku bagi orang yang sering mengucapkan Laa ilaaha illallaah. Disamping itu orang yang rajin melafalkan kalimat tauhid dia tidak akan pernah merasa kesepian ketika dibangkitkan dan akan ter-hindar dari azab kubur dan akan terhindar dari kesusahan di akhirat. Sungguh indah bukan ?. Oleh karenanya sering-seringlah mengucap Laa ilaaha illallaah

 
INDEKS Hadits & Syarah®

Pembacaan Hadits Ba'da Isya 20112011


Bersabar  Saat  Sakit.
 
            Bagi orang yang sedang sakit, hendaknya dia bersabar atas musibah yang sedang menimpanya. Dan tidaklah seorang hamba diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih bernilai dibanding dengan (tertambatnya) kesabaran (dalam diri). Berkaitan dengan nilai kesabaran dan keutamaan yang terkandung didalamnya, ada beberapa hadis yang menjelaskan hal tersebut. Diantaranya adalah :
 
    Imam Muslim meriwayatkan dari Suhaib bin Sinan ra, bahwa Rasulullah bersabda : "Sungguh amat menakjubkan perkara orang beriman, di mana semuanya menjadi baik dan tidak ada yang mendapatkan hal tersebut kecuali orang yang beriman. Jika ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur. Hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar. Hal itu juga merupakan kebaikan baginya" .  (HR. Muslim)
 
     Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. Dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda, sesungguhnya Allah berfirman : "Jika Aku menguji hamba-Ku dengan dua hal (kedua matanya) yang amat dicintainya lalu ia bersabar, maka Aku akan mengganti atas keduanya dengan surga".
(HR. Bukhari)
 
     Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari 'Atha bin Abi Rabah. Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, maukah aku tunjukkan kepadamu sosok perempuan yang menjadi penghuni surga ?. Aku menjawab, "Iya". Ibnu Abbas melanjutkan, "Ia adalah sosok perempuan yang berkulit hitam, yang pernah datang menemui Rasulullah lalu berkata, 'Sesungguhnya aku mengidap penyakit ayan, dan ketika penyakitku kambuh auratku ter-buka. Untuk itu, berdoalah kepada Allah untukku'. Lantas Rasulullah berkata kepadanya, 'Jika kamu mau, bersabarlah dan bagianmu adalah surga. Dan jika kamu menginginkan, aku akan berdoa kepada Allah agar memberi kesembuhan kepadamu'. Mendengar hal itu, ia lantas berkata, 'Sesungguhnya jika penyakit ayanku kambuh, auratku selalu tersingkap. Untuk itu, berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap'. Lantas Rasulullah berdoa untuknya.
 
 
 
 
Fiqih Sunnah®