Senin, 09 April 2012

Pembacaan Hadits Ba'da Maghrib 07042012

ARASY ALLAH BERADA DIATAS AIR
 
Allah itu ada, dan tiada sesuatupun selain-Nya, Arasy-Nya berada di atas air. Dia telah memastikan segala sesuatu di dalam adz-Dzikr (Lauh Mahfuzh), lalu Dia men-ciptakan langit dan bumi.
(Riwayat Bukhari)
 
Syarah/Penjelasan :
            Ketika Allah SWT belum menciptakan ciptaan-Nya, tiada sesuatupun selain Dia. Pada masa ini semuanya hanya kekosongan, Allah bersemayam 'Arasy-Nya, ada yang mengartikan Arasy sebagai singgasana Tuhan ada juga yang mengartikannya dengan kekuasaan Tuhan.
 
"(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arasy"
(QS.Thahaa [20] : 5)
 
            Arasy berada di atas air, lalu Dia mencatat segala sesuatu yang akan di ciptakan-Nya berikut semua takdir-Nya di Lauhul Mahfuzh, yaitu sebuah kitab takdir yang berisikan nasib seluruh manusia dan alam beserta isinya.
 
"Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)"
(QS. An-Naml [27] :75)
 
lalu Dia menciptakan lagit dan bumi,
 
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi : "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab : "Kami datang dengan suka hati". Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
(QS. Al-Fuhshilat [41] : 11-12)
Penciptaan langit dan bumi ini sesudah diciptakan-Nya nur Muhammad SAW. karena di dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda kepada sahabat Jabir ra : "Mula-mula yang diciptakan oleh Allah adalah nur nabimu, hai Jabir".
 
INDEKS Hadits & Syarah®

Pembacaan Hadits Ba'da Shubuh 07042012

Membaca Talbiyah Untuk Menunaikan
Ibadah Umrah dab Haji
 
662.    Bersumber dari Anas (bin Malik) ra, ia menyampaikan, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW menggabungkan dua bacaan talbiyah sekaligus, 'LABBAIKA 'UMRATAN  WA HAJJAN, LABBAIKA 'UMRATAN WA HAJJAN (Aku penuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah dan haji, aku penuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah dan haji)'".
            (Muslim IV : 59)
 
663.    Bersumber dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya Ibnu Maryam memulai membaca talbiyah di lorong Rauhah[1] (satu daerah antara Mekkah dan Madinah) untuk menunaikan ibadah haji dan ibadah umrah, atau dia menghimpun keduanya sekaligus".
(Muslim IV : 60)
 
[1].          Ia adalah diantara Mekkah dan Madinah, ia adalah jalan yang dilewati
Rasulullah SAW menuju Badar dan Mekkah pada tahun  Fathu Makkah
dan pada tahun haji Wada' sedangkan perkataannya (au) bisa karena
                                keraguan dari rawi atau berasal dari Nabi SAW karena tersembunyi.
Kemungkinan yang pertama lebih kuat.
 
                Ringkasan Shahih Muslim®
 

Minggu, 08 April 2012

Pembacaan Hadits Ba'da Isya 06042012

Seseorang yang Melihat Hilal Sendirian
 
Para ulama fikih sepakat bahwa orang yang menyaksikan hilal sendirian diwajibkan berpuasa. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat Atha' yang mengatakan bahwa orang itu tidak diperbolehkan berpuasa kecuali ada orang lain yang turut menyaksikan bersamanya.
 
Namun, para ulama berbeda pendapat berkaitan melihat hilal Syawal. Pendapat yang benar adalah orang itu hendaknya berbuka puasa sebagaimana yang dinyatakan Syafi'i dan Abu Tsaur. Sebab, Rasulullah telah mewajibkan berpuasa atau berbuka bila hilal sudah terlihat dan orang yang melihatnya telah menyaksikan dengan yakin. Permasalahan ini berkaitan erat dengan indra penglihatan, hingga dengan demikian orang yang melihat hilal sendirian tadi tidak dibenarkan mengajak orang lain untuk berbuka bersamanya.
 
Fiqih Sunnah®

Pembacaan Hadits Ba'da Shubuh 06042012

Berihlal Untuk Haji dari Makkah
 
660.    Bersumber dari Jabir ra, bahwa ia menuturkan, "Kami berangkat bersama Rasulullah SAW untuk berihlal haji ifrad sedangkan Aisyah berihlal (mengenakan pakaian ihram lalu bertalbiyah) untuk umrah. Sesampainya di daerah Sarif, tiba-tiba ia datang bulan. Ketika kami sudah sampai di Makkah bahkan sudah melakukan thawaf di Ka'bah dan melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah, maka Rasulullah SAW menyuruh kami bertahallul karena aku tidak membawa hewan sembelihan. Kami bertanya, 'Apa saja yang dihalalkan ?'. Rasulullah SAW menjawab, 'Semua halal'. Maka segera kami menggauli isteri kami. Kami sudah berani memakai wangi-wangian dan berpakaian lengkap (lagi). Di Arafah kami cuma bermalam empat hari, kemudian berihlal (lagi) pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah). Kemudian Rasulullah SAW menemui isterinya, Aisyah radhiyallahu anha yang kebetulan tengah menangis. Beliau bertanya, 'Ada apa denganmu ?'. Aisyah menjawab, 'Aku mengalami datang bulan, sementara jama'ah haji yang lain sudah bertahallul. Mereka sudah berangkat menunaikan ibadah haji. Sementara akau belum juga bertahallul dan belum juga mengerjakan thawaf di Baitullah'. Mendengar penuturan isterinya itu, maka Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya masalah ini sudah merupakan ketentuan Allah yang diterapkan kepada segenap kaum wanita. Maka mandilah dan berihlallah untuk ibadah haji !'. Segera saja Aisyah memenuhi saran suaminya tersebut dan berwukuf. Dan, ketika sudah suci dari haidnya dia lalu, melakukan thawaf di Baitullah serta melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah. Setelah itu Rasulullah SAW bertanya, 'Bukankah kamu telah bertahallul dari haji dan umrahmu sekaligus?' . Kemudian Aisyah radhiyallahu anha menjawab, 'Sesungguhnya aku tidak akan melakukan thawaf di Baitullah sebelum aku selesai menunaikan ibadah haji'. Mendengar penyataan itu, Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada Abdurrahman, 'Wahai Abdurrahman, pergilah bersamanya. Dan, antarkanlah saaudarimu ini untuk berumrah dari daerah Tan'im!'. Mereka pergi pada malam ketika mereka tiba di Muhashshab".
            (Muslim IV : 35)
 
                Ringkasan Shahih Muslim®

Pembacaan Hadits Ba'da Maghrib 06042012

PERNYATAAN ALLAH TENTANG KEESAANYA
 
Allah SWT telah berfirman : "Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Allah. Barangsiapa mengakui ketauhidan-Ku (keesaan-Ku) niscaya ia akan me-masuki benteng-Ku dan selamat dari azab-Ku".
(Riwayat Asy-Syairazi melalui Ali)
 
Syarah/Penjelasan :
            Pengertian tauhid dalam hadits ini harus disertai dengan gandengannya, yaitu beriman bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat  tauhid adalah kalimat yang paling mulia, dan memiliki makna yang sangat besar. Kalimat ini berisi pengakuan tidak ada lagi Tuhan selain Allah. Dialah satu-satunya Tuhan yang patut untuk disembah. Tuhan menciptakan manusia, alam dan seisinya. Dengan mengucapkan kalimat tauhid seorang manusia yang belum berislam sudah dikategorikan sebagai seorang muslim. Orang yang tidak mempercayai bahwa hanya Allah lah tuhan yang patut diimani dan dipercaya, tidak akan mau mengucapkan kalimat tauhid. Bahkan orang yang sudah lama memeluk Islam kemudian dia mengakui ada Tuhan lain selain Allah maka dia dikategorikan sebagai orang yang murtad atau keluar dari Islam.
 
            Selain itu hadits ini juga menjelaskan barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (bertauhid), niscaya ia akan masuk surga tanpa dihisab, jika ia tidak mempunyai dosa dan menjalani pembersihan lebih dahulu melalui siksa neraka, jika banyak dosanya. Dalam hadits lain dijelaskan bahwa kalimat Laa ilaaha illAllah adalah kalimat yang dijadikan kunci untuk kita masuk kedalam surga-Nya Allah, siapapun yang pernah mengucapkannya pasti dia akan masuk surga.
 
INDEKS Hadits & Syarah®