Selasa, 04 September 2012

Pembacaan Hadits Ba'da Shubuh 31082012

Keutamaan Orang yang Mengucapkan Seperti
yang Diucapkan Oleh Muadzdzin
 
199.    Bersumber dari Umar bin Khaththab ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Manakala muadzdzin mengucapkan, 'ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR', lalu seorang di antara kalian mengucapkan (juga)  'ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR'; kemudian sang muadzdzin mengucapkan 'ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH', orang itu mengucapkan (juga), 'ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH'; kemudian muadzdzin mengucapkan 'ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH', orang itu mengucapkan juga, 'ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH'; kemudian muadzdzin mengucapkan 'HAYYA  'ALASH SHALAAH', orang itu mengucapkan 'LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH' (Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan (idzin) Allah); kemudian muadzdzin mengucapkan, 'HAYYA 'ALAL FALAAH (marilah menuju kemenangan)', orang itu mengucapkan, 'LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH'; kemudian muadzdzin mengucapkan 'ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR', orang itu mengucapkan juga, 'ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR'; kemudian muadzdzin mengucapkan 'LAA ILAAHA ILLALLAAH', orang itu mengucapkan juga  'LAA ILAAHA ILLALLAAH' dari lubuk hatinya, niscaya ia akan masuk surga".
            (Muslim II : 4)
 
Ringkasan Shahih Muslim®
 

Senin, 03 September 2012

Pembacaan Hadits Ba'da Shubuh 30082012

Mengucapkan Sebagaimana yang
Diucapkan Muadzdzin
 
198.    Bersumber dari Abdullah bin Amr bin 'Ash ra, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian mendengar seorang muadzdzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya. Kemudian bacalah shalawat untukku; karena sesungguhnya siapa saja yang mengucapkan shalawat untukku sekali, niscaya Allah akan melimpahkan rahmat kepadanya sepuluh kali lipat. Setelah itu mohonlah wasilah kepada Allah untukku; karena itu merupakan tempat di surga yang hanya layak untuk seorang hamba dari kalangan hamba-hamba Allah. Dan, aku berharap, akulah hamba itu. Barangsiapa memohonkan wasilah kepada Allah untukku, niscaya ia berhak mendapatkan syafa'atku".
            (Muslim II : 4)
 
Ringkasan Shahih Muslim®

Pembacaan Hadits Ba'da Isya' 30082012

N A S E H A T
 
( lanjutan..........
Termasuk nasehat kepada kitab Allah adalah menyebarkan makna Al-Qur'an kepada orang-orang Islam, makna yang benar adalah yang sesuai dengan zhahirnya, tanpa adanya perubahan dan pergantian. Jika seseorang duduk di majelis, maka termasuk dari kebaikan dan nasehat kepada kitab Allah apabila ia membawakan satu ayat dari kitab Allah Ta'ala dan menjelaskannya pada mereka, menerangkan maknanya, apalagi ayat-ayat yang sering dibaca di antara kaum muslimin seperti Al-Fatihah, sesungguhnya Al-Fatihah, yang kita ketahui semua merupakan rukun dari rukun-rukun shalat dari setiap rakaat, baik bagi imam, makmum atau yang shalat sendirian, mereka sangat perlu untuk mengetahuinya. Jika ia menafsirkannya dan menjelaskannya di hadapan mereka, maka ini termasuk nasehat kepada kitab Allah Ta'ala.
 
            Diantara makna nasehat kepada kitab Allah adalah Anda meyakini bahwa sesungguhnya Allah Ta'ala telah berbicara dalam Al-Qur'an secara hakikat, sesungguhnya firman Allah Ta'ala itu adalah huruf dan makna bukan ucapan dengan huruf tanpa makna bukan pula makna tanpa huruf, kitab itu adalah firman Allah secara lafazh dan makna. Dia berbicara dengannya lalu memberikannya kepada Jibril kemudian menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW, Allah Ta'ala berfirman,
 
"Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh  Al-Amin (Jibril). Kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan. Dengan lisan (bahasa) Arab yang jelas"
 (QS. Asy-Syu'ara : 192-195)
 
            Renungilah bagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Kedalam hatimu (Muhammad)" padahal Rasulullah SAW mendengarnya melalui kedua telinganya, tetapi telinga jika pendengarannya tidak sampai kedalam hati, maka tidak akan tertanam di dalam jiwa, tidaklah akan tertanam ke dalam jiwa kecuali apa yang sampai ke dalam hati dari jalan telinga, penglihatan mata, sentuhan tangan, penciuman hidung atau dari perasaan mulut. Yang terpenting, bahwa tempat menetapnya adalah dalam hati. Karenanya Allah berfirman, "Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan". Berdasarkan hal ini, maka bukanlah termasuk dari nasehat tenggelam dalam pembicaraan atas AL-Qur'an, apakah Al-Qur'an itu firman Allah secara hakikat atau bukan ?  Atau mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk dari makhluk-makhluknya Allah, atau lain sebagainya. Tetapi yang termasuk nasehat adalah kamu beriman bahwa sesungguhnya Al-Qur'an adalah firman Allah yang haq secara lafazh dan makna.
 
( berlanjut ..........
 
SyarahRiyadhus Shalihin®

Pembacaan Hadits Ba'da Maghrib 30082012

Larangan Berbaurnya Orang yang Sakit
Dengan Orang yang Sehat
 
            Orang yang memiliki penyakit menular diperbolehkan di pisah dengan orang yang sehat dan tidak berdampingan dengan mereka. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW,
 
"Janganlah orang (terkena) sakit (menular) dikumpulkan dengan orang yang sehat".
HR. Bukhari
 
            Rasulullah melarang orang yang memiliki unta yang sakit dicampur dengan unta yang sehat seraya berkata, "Jangan sampai ada penularan dan sikap pesimis".
 
            Begitu juga dengan salah satu riwayat yang mengisahkan adanya seseorang yang terkena penyakit kusta dan ia ingin berbaiat kepada Rasulullah, lalu Rasulullah mengutus seorang sahabat untuk menemuinya dan menyatakan bahwa baiatnya diterima Rasulullah, sehingga ia tidak masuk kota Madinah.
 
Fiqih Sunnah®
           

Pembacaan Hadits Ba'da Shubuh 29082012

Keutamaan  Muadzdzin
 
197.    Bersumber dari Isa bin Thalhah, ia berkata, "Aku pernah berada disamping Mu'awiyah bin Abu Sufyan ra, tiba-tiba datanglah seorang muadzdzin mengajaknya untuk mengerjakan shalat. Lalu Mu'awiyah berkata, 'Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Para muadzdzin adalah orang yang paling panjang lehernya kelak di hari kiamat"'
            (Muslim II : 5)
 
Ringkasan Shahih Muslim®