Jumat, 23 Maret 2012

Pembacaan Hadits Ba'da Maghrib 22032012

PERINTAHKAN ANAK UNTUK MENDIRIKAN SHALAT
 
Apabila seorang anak telah mengetahui mana bagian kanan dan kirinya maka perintahkanlah ia untuk (mengerjakan) shalat.
(Riwayat Abu Daud)
 
Syarah/Penjelasan :
            Bilamana anak kita telah mampu membedakan mana yang kanan dan mana yang kiri, maka kita harus memerintahkannya untuk shalat. Kalau seorang anak sudah bisa membedakan mana yang kiri dan mana yang kanan kalaupun dia sebenarnya belum dewasa, tapi dia sudah bisa mencerna dan mengerti apa yang kita ajarkan atau kita perintahkan. Hal ini dijelaskan oleh hadits lainnya yang mengatakan.
 
"Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat bila mencapai usia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat dalam usia sepuluh tahun".
 
Hadits ini menerangkan tentang batas usia minimal usia anak untuk diperintahkan mengerjakan shalat. Anak tujuh tahun harus kita perintahkan shalat kalau tidak mau kita cukup menasehati  atau memarahinya, tapi kalau dia sudah berusia sepuluh tahun tidak mau mengerjakan shalat pukullah dia.
            Mengerjakan shalat harus dibiasakan semenjak kecil sehingga kalau dia sudah dewasa dia akan terbiasa untuk melaksanakan shalat. Kalau tidak dibiasakan  dari kecil besar kemungkinan stelah dewasa dia akan jarang melaksanakan shalat karena tidak terbiasa. Padahal meninggalkan shalat adalah dosa besar.
           
INDEKS Hadits & Syarah®

Pembacaan Hadits Ba'da Shubuh 22032012

Difardhukannya  Ibadah Haji Sekali Seumur Hidup
 
639.    Bersumber dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW pernah berceramah dihadapan kami (para sahabat), beliau bersabda, "Wahai segenap sahabat, sungguh telah difardhukan ibadah haji atas kalian. Karena itu, hendaklah kalian menunaikannya!". Kemudian ada seorang sahabat yang bertanya, "Ya Rasulullah, apakah itu ditunaikan setiap tahaun ?". Beliau diam, sampai sahabat itu mengulanginya tiga kali. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, "Andaikata aku mengatakan, 'Ya'. Tentu wajib setiap tahun. Dan, pasti kalian tidak sanggup mengerjakannya". Kemudian beliau SAW melanjutkan, "Abaikan apa-apa yang aku tinggalkan (yang tidak aku jelaskan). Sebab,  sesungguhnya  orang-orang sebelum kalian telah binasa karena mereka terlalu banyak bertanya dan mereka menyalahi (tuntunan) nabinya. Oleh karena itu, mankala aku telah memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka laksanakanlah semampu kalian dan bilamana aku mencegah kalian dari mengerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah !".
            (Muslim IV : 102)
 
Pahala Ibadah Haji dan Umrah
 
640.    Bersumber dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penebus dosa di antara keduanya; dan ibadah haji mabrur(1) tidak dibalas melainkan surga".
(Muslim IV : 107)
 
641.    Bersumber dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa datang ke Baitullah ini, lalu ia tidak melakukan rafats (jima') dan tidak berbuat fasiq (maksiat), niscaya ia kembali (ke rumahnya) seperti waktu dilahirkan oleh ibunya".
(Muslim IV : 107)
 
 
(1)   Maksudnya adalah yang diterima yaitu yang paling benar
dimana tidak tercampur dengan dosa.
 
 
Ringkasan Shahih Muslim®

Kamis, 22 Maret 2012

Pembacaan Hadits Ba'da Isya 21032012

Memakamkan Jenazah
 
Anjuran Meletakkan Tanah Tiga Kali Pada Kuburan
 
            Bagi orang yang ikut menyaksikan proses meriwayatkan pemakaman mayat , hendaknya ia meletakkan tanah pada liang kubur sebanyak tiga kali dengan kedua tangannya, yang dimulai dari arah kepalanya. Hal ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibban, bahwasanya Rasulullah SAW, menyalati jenazah, kemudian beliau ikut sampai tempat pemakaman, lalu beliau meletakkan tanah ke dalam liang kubur dari arah kepalanya sebanyak tiga kali.
(HR. Ibnu Majah)
 
            Pada saat seseorang meletakkan tanah kedalam liang kubur, hendaknya membaca  "Minha Khalaqnakum" pada peletakan tanah pertama. "Wafiha Nu'iduku" pada peletakan tanah yang kedua. Dan pada peletakan tanah yang ketiga, hendaknya membaca "Waminha Nukhrijukum Taratan Ukhra". Hal ini berdasarkan pada sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah SAW mengucapkan kalimat tersebut ketika beliau meletakkan Ummu Kultsum - putri beliau - ke dalam liang kubur.
 
            Imam Ahmad berkata, tidak dianjurkan membaca apapun pada saat meletakkan tanah ke dalam liang kubur karena tidak ada hadits yang menyatakan hal tersebut. Sementara derajat hadits di atas adalah dhaif (lemah)
 
Anjuran untuk Mendoakan Jenazah setelah Dikebumikan
 
Selasai mayat di kebumikan, hendaknya ia didoakan agar segala dosa diampuni karena pada saat itu, dan membantunya agar mantap pada saat menjawab pertanyaan (Malaikat), karena pada saat itu, ia sedang dihadapkan pada beberapa pertanyaan.
 
Utsman berkata, setelah Rasulullah SAW selesai memakamkan jenazah beliau berdiri diatas pemakaman dan bersabda, "Beristighfarlah untuk saudara kalian, dan mintalah ketetapan untuknya karena sekarang ia ditanya".
(HR. Abu Daud dan Hakim)
 
            Hakim menyatakan bahwa hadits ini hasan. Al-Bazzar berkata, tidak ada riwayat yang bersumber dari Rasulullah SAW mengenai permasalahan ini kecuali dengan redaksi ini.
Razin meriwayatkan dari Ali ra., ketika Rasulullah SAW selesai memakamkan jenazah, ia berdoa, "Ya Allah, inilah hamba-Mu yang telah bersanding dengan-Mu, dan Engkau adalah sebaik-baik tempat bersanding untuknya. Maka ampunilah dia dan lapangkan tempatnya".
Ibnu Umar menganjurkan agar membaca permulaan dan akhir surah Al-Baqarah di atas makam setelah jenazah dimakamkan.
(HR. Baihaki, dengan sanad hasan)
 
Fiqih Sunnah®

Pembacaan Hadits Ba'da Maghrib 21032012

PENGARUH ORANG TUA TERHADAP ANAKNYA
 
Tiap-tiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau seorang Majusi. Perihalnya sama dengan ternak yang sehat tentunya melahirkan ternak yang sehat dan utuh, apakah kalian melihat padanya suatu cacat tubuh ? (tentu tidak).
(Riwayat Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah r.a)
 
Syarah/Penjelasan :
            Yang dimaksud dengan fitrah dalam hadits ini ialah agama Islam, yakni agama tauhid, sesuai dengan perjanjian yang telah disebutkan dalam firman-Nya : Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu ?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".
(QS. Al-A'raf [7] : 172)
            Orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk mengantarkan anaknya menjadi seorang muslim, nasrani ataupun majusi. Kalau orang tua mengarahkan anaknya untuk jadi muslim maka dia akan menjadi Muslim tapi kalau orang tua mengarahkan kepada Nasrani atau Majusi maka jadilah dia Nasrani atau Majusi. Ini menunjukkan seorang anak kecil belum bisa menentukan sikapnya dalam segala hal, dia dididik baik, maka dia akan menjadi orang yang baik, dididik jahat maka dia akan menjadi penjahat. Begitupun dalam hal agama dia belum dapat mengarahkan. Untuk itu didiklah anak-anakmu menjadi seorang Islam utuh.
           
INDEKS Hadits & Syarah®

Rabu, 21 Maret 2012

Pembacaan Hadits Ba'da Shubuh 21032012

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam ke Dua Puluh Sembilan
 
638.    Bersumber dari Zirr bin Hubaisy, ia menceritakan, Aku pernah bertanya kepada Ubai bin Ka'ab ra, bahwa saudaramu Ibnu Mas'ud mengatakan, 'Barangsiapa mengerjakan ibadah di waktu malam hari selama setahun niscaya ia akan mendapatkan Lailatul Qadar'. Kemudian Ubai bin Ka'ab berkata, 'Semoga Allah memberi rahmat kepadanya. Dia ingin kiranya manusia tidak terpancang pada hal itu saja. Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya dia telah mengetahui bahwa Lailatul Qadar itu terdapat pada bulan Ramadhan, yaitu pada kesepuluh hari yang terakhir atau pada malam yang ke dua puluh tujuh'. Kemudian Ubai bin Ka'ab bersumpah bahwa sesungguhnya Lailatul Qadar memang turun pada malam yang ke dua puluh tujuh. Kemudian aku bertanya kepadanya, 'Wahai Abul Mundzir (panggilan akrab Ubai bin Ka'ab), apa dasarmu, kamu berani berkeyakinan seperti itu ?'. Ubai menjawab, 'Ada tanda-tandanya atau ada isyarat yang Rasulullah SAW pernah informasikan kepada kami. Yakni bahwa pada pagi harinya, matahari ketika terbit, sinarnya kelihatan suram'.
            (Muslim III : 174)
 
Ringkasan Shahih Muslim®