Selasa, 06 Desember 2011

Pembacaan Hadits Ba'da Isya 05122011


Penyembuhan dengan Ruqyah dan Doa
 
          Syariat Islam memperbolehkan pengobatan dengan cara ruyah dan membacakan do'a-do'a selama do'a yang dibacanya masuk dalam kategori dzikir kepada Allah, dan lafal yang digunakannya dapat dipahami (bukan dengan lafal yang tidak dapat dipahami), karena hal tersebut di khawatirkan akan menjerumuskan pada kemusyrikan.
            Auf bin Malik meriwayatkan, "Pada masa Jahiliyah, kami melakukan peng-obatan dengan cara ruqyah, kemudian kami bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang hal ini ?". Rasulullah lalu bersabda, "Tampakkanlah kepadaku sistem ruyah kalian. Tidak apa melakukan pengobatan dengan ruqyah selagi di dalamnya tidak mengandung unsur kemusyrikan"
(HR. Muslim dan Abu Daud)
 
            Rabi' berkata, aku pernah bertanya kepada Syafi'i tentang ruqyah. Lantas ia menjawab, "Tidak mengapa kamu melakukan ruqyah dengan kitabullah (bacaan dalam Al-Qur'an) dan dzikir kepada Allah yang kamu ketahui". Aku bertanya lagi, "Apakah ahlul kitab boleh melakukan kepada orang Islam ?". Syafi'i menjawab, "Boleh, jika ruqyah yang digunakan adalah Kitabullah dan dzikir kepada Allah".
 
 
Fiqih Sunnah®

Pembacaan Hadits Ba'da Maghrib 05122011


KEBAJIKAN  YANG  PALING  BERAT
TIMBANGANNYA
 
Tiada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal daripada akhlak yang baik
(Riwayat Ahmad melalui Abu Darda)
           
Syarah/Penjelasan :
            Sesungguhnya yang dinamakan ketaatan atau kebaikan itu hanya terletak pada akhlak yang baik. Seorang Muslim yang berakhlak baik selalu menunjukkan ketaatannya kepada Allah SWT disetiap waktu dan dalam berbagai situasi dan kondisi. Dia tidak pernah mau menunjukkan keengganan untuk menjalankan perintah-perintah-Nya, apalagi melanggar larangan-larangan-Nya. Selain itu Muslim yang berakhlak baik selalu menunjukkan tindakan-tindakan yang ber-etika dalam pergaulannya sehari-hari. Dia tidak akan mau merugikan orang lain apalagi sampai menzalimi orang lain, dia gemar menolong, pemurah dll.
            Sedangkan yang dinamakan dosa itu ialah sesuatu yang bergejolak didalam hati kita, sedangkan orang yang bersangkutan tidak suka hal itu diketahui oleh orang lain. Atau istilah lainnya adalah aib. Aib adalah sesuatu tindakan atau perkara yang memalukan, biasanya kalau kita punya aib maka kita akan menutupinya. Seluruh tindakan yang membuat kita malu kalau sampai orang lain tahu tindakan tersebut berarti itu adalah tindakan dosa. Maka jauhilah tindakan seperti itu.
           
 
INDEKS Hadits & Syarah®
 
 

Pembacaan Hadits Ba'da Shubuh 05122011


Tidak Menunjuk Pengganti
 
 
1197.  Bersumber dari Ibnu Umar ra, ia menceritakan, "Saya pernah datang kerumah Hafshah radhiyallahu anha, lalu dia berkata, 'Tahukah kamu bahwa ayahmu (Umar bin Khaththab) tidak menunjuk pengganti !' ". Kata Ibnu Umar, "Dia memang tidak mengangkat pengganti, maka saya bersumpah bahwa saya akan berbicara dengannya tentang hal itu. Saya pun diam sehingga saya pergi, tapi saya tidak mampu mengatakannya. Rasanya saya bagaikan mengangkat gunung dengan tangan kanan saya, sehingga saya pulang. Lalu saya menemui ayah (Umar bin Khaththab ra). Kemudian dia bertanya kepada saya perihal ihwal kaum muslimin. Maka saya informasikan kepadanya. Setelah itu, saya katakan kepada ayah, 'Sesungguhnya saya telah mendengar orang-orang telah membicarakan satu masalah, namun namun saya tidak segera memberitahukannya kepada Ayah. Mereka menduga kuat bahwa Ayah tidak akan menunjuk pengganti. Andaikata seorang peng-gembala onta saya atau penggembala kambing saya datang kepada Ayah, lalu ditinggalkan onta atau kambing itu, maka Ayah pasti berpendapat bahwa penggembala tersebut benar-benar telah menelantarkan ternak gembalanya, padahal urusan rakyat adalah jauh lebih penting diperhatikan' " . Ibnu Umar melanjutkan ceritanya, "Ayah sepakat dengan ucapan saya, lalu dia menun-dukkan kepalanya sejenak, kemudian mengangkatnya lantas mendekati saya. Dia berkata, 'Sesungguhnya Allah Azza Wajalla selalu memelihara Agama-Nya. Jika aku tidak menunjuk pengganti, maka sesungguhnya Rasulullah SAW memang juga tidak mengangkat pengganti, jika aku tidak mengangkat pengganti, namun Abu Bakar sungguh telah menunjuk pengganti'". Ibnu Umar ra melanjutkan, "Wallahi, ayah (Umar bin Khaththab) hanya menyebut Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Saya tahu bahwa Ayah tidak membanding-kan seseorang dengan Rasulullah SAW, sehingga dia tidak menunjuk penggantinya".
            (Muslim VI : )
 
 
Ringkasan Shahih Muslim®

Senin, 05 Desember 2011

Pembacaan Hadits Ba'da Maghrib 02122011


JANGAN  MEREMEHKAN  ORANG  LAIN
 
Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat seseorang yang seandainya ia berdo'a kepada Allah niscaya Dia mengabulkan nya.
(Riwayat Bukhari dan Muslim)
Syarah/Penjelasan :
            Jangan sekali-kali kita merehkan atau menghina seseorang karena siapa tahu barangkali orang yang diremehkan itu adalah termasuk hamba yang dikasihi oleh Allah SWT, seperti yang disebutkan dalam hadis. Adakalaya seseorang yang tampak berpakaian lusuh penuh dengan tambal sulam dan berpenampilan kelihatan kotor, padahal seandainya dia berdo'a memohon sesuatu kepada Allah, mungkin saja Allah mengabulkan permintaannya dengan seketika.
            Karena tidak ada seorangpun yang mengetahui apakah dia termasuk orang yang do'anya selalu dikabulkan atau tidak. Alangkah beruntungnya seseorang yang berdo'a, do'anya selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Orang seperti ini adalah orang-orang pilihan Allah yang selalu dekat dengan-Nya. Dia hampir tidak pernah melakukan perbuatan maksiat dan slalu beramal shaleh. Maka kalau kita ingin setiap do'a kita dikabulkan maka kita jangan berbuat maksiat dan selalu melakukan amal shaleh, niscaya kita akan dekat dengan Allah.

 
JANGAN  PANDANG  BULU  DALAM 
BERBUAT  KEBAIKAN
 
Pokok kebijaksanaan setelah iman kepada Allah adalah cinta kepada sesama manusia dan berbuat baik kepada orang yang takwa maupun orang yang durhaka. Sesungguhnya orang yang ahli dalam hal kebajikan sewaktu di dunia, mereka pun adalah ahli kebajikan kelak di akhirat. Dan sesungguhnya ahli kemunkaran di dunia mereka pun menjadi ahli kemunkaran pula kelak di akhirat.
(Riwayat Baihaqi)
           
Syarah/Penjelasan :
            Mencintai sesama bersikap bersahabat dan kasih sayang kepada semua orang adalah keutamaan kedua setelah beriman kepada Allah. Karena itu berbuat baik jangan pandang bulu kepada siapa saja boleh. Karena jika berbuat baik kepa-da orang yang bertakwa, maka hal itu akan akan memacu dia untuk lebih bertakwa. Jika berbuat baik kepada orang yang durhaka, mudah-mudahan akan terketuk hati-nya dan mau kembali ke jalan yang benar.
            Ahli kebaikan di dunia kelak di akhirat pun akan menjadi ahli kebaikan pula. Dalam hadis terdahulu telah disebutkan bahwa ahli kebajikan di akhirat adalah para ulama. Kebaikan yang kita lakukan semuanya karena Allah, bukan mengharapkan pamrih dari manusia, karena Allah lah yang akan membalas semua kebaikan kita, ada yang langsung dibalas kebaikannya ketika dia di dunia, ada juga yang menda-pat balasannya kelak di akhirat. Tapi yakinlah Allah akan membalas semua kebaikan yang kita pernah lakukan. Apakah kebaikan itu kita lakukan kepada orang baik ataupun kepada orang jahat.
 
            Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan yang mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah : "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruan kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri".
(QS. As-Syuraa [42] : 23)
 
INDEKS Hadits & Syarah®
 
 

Pembacaan Hadits Ba'da Shubuh 02122011


Jumlah Peperangan yang Dipimpin Langsung
 oleh Rasulullah SAW
 
 
1193.  Bersumber dari Abu Ishaq, bahwa Abdullah bin Yazid berangkat untuk mengerjakan shalat istisqa' bersama orang banyak, lalu dia mengerjakan shalat dua rakaat, lalu dia berdo'a meminta hujan. Pada hari itu saya (Abu Ishaq) bertemu dengan Zaid bin Arqam yang antara saya dengan dia hanya ada seorang laki-laki. Lalu saya bertanya kepada Zaid bin Arqam, "Berpa kali  Rasulullah SAW berperang ?". Zaid bin Arqam menjawab, "Sembilan belas kali". Saya bertanya (lagi), "Berapa kali kamu berperang bersama Rasulullah SAW ?". Zaid bin Arqam menjawab, "Tujuh belas kali !". Saya bertanya (lagi), "Perang apa yang kamu ikuti mula pertama ?". Zaid menjawab, "Perang Dzatul 'Usair atau Dzatul 'Usyair".
            (Muslim V : 199)
 
 
1194.  Bersumber dari Buraidah ra., ia mengatakan, "Rasulullah SAW berperang sebanyak sembilan belas kali, dan beliau memimpin peperangan delapan kali".
(Muslim V : 200)
 
 
 
 
Ringkasan Shahih Muslim®