Sabtu, 05 Mei 2012

Pembacaan Hadits Ba'da Isya' 01052012

Hari-hari Yang Dilarang Berpuasa
( .....lanjutan.........................
 
5.    Pada Hari yang Diragukan
Amman bin Yasir ra, berkata, "Siapa yang berpuasa pada hari yang diragukan, berarti dia telah berbuat durhaka terhadap Abul Qasim, Rasulullah SAW". HR. Tirmidzi, Nasa'i, Abu Daud dan Ibnu Majah.
Menurut Tirmidzi, hadits ini hasan shahih dan menjadi amalan bagi kebanyak ulama. Inilah pendapat Syufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah bin Mubarak, Syafi'i, Ahmad dan Ishak. Mereka memandang makruh apabila seseorang berpuasa pada hari yang masih diragukan.
            Kebanyakan mereka juga berpendapat jika hari puasa itu ternyata masuk bulan Ramadhan, hendaknya dia mengqadha' satu hari sebagai gantinya(!). Jika puasa hari itu karena hanya kebetulan bertepatan denga puasa yang biasa dilakukan, maka dibolehkan tanpa dinyatakan makruh. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, "Janganlah kalian mendahului puasa Ramadhan sehari atau dua hari, kecuali jika bertepatan dengan puasa pada hari yang biasa dilakukan oleh seseorang, maka hendaknya dia berpuasa pada hari itu.
HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Nasa'i, Ibnu Majah dan Abu Daud.
Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih dan menjadi hujjah bagi para ulama, dimana mereka menyatakan makruh jika seseorang mendahului puasa sebelum tiba bulan Ramadhan dengan tujuan puasa Ramadhan semata. Tetapi, apabila seseorang sudah terbiasa melakukan puasa sunnah dan secara kebetulan bertepatan dengan hari tersebut, maka menurut ulama, hal yang sedemikian tidak diperbolehkan".
 
6.    Puasa Sepanjang Tahun.
Berpuasa  sepanjang tahun termasuk hari-hari yang dilarang oleh agama. Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW., "Tidaklah (sah) puasa bagi orang yang berpuasa sepanjang masa". (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim).
Namun, apabila seseorang berniat berpuasa pada sepanjang tahun, tapi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha serta hari-hari tasyrik tidak berpuasa, maka hal seperti ini hukumnya tidak makruh, jika memang dia sanggup melakukannya. Tirmidzi berkata, "Sejumlah ulama menyatakan makruh apabila seseorang berpuasa sepanjang tahun, jika tidak berbuka pada hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha, dan hari-hari tasyrik. Bagi yang tidak berbuka pada hari-hari tersebut, tidak makruh hukumnya dan tidak disebut sebagai puasa sepanjang tahun". Pendapat ini dikemukakan Imam Malik, Syafi'i, Ahmad, dan Ishaq. Rasulullah telah menyetujui Hamzah al-Aslami ketika puasa secara berturut-turut dengan bersabda kepadanya,      "Puasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau".
            (HR. Muslim)
            Menurut pendapat yang lebih utama, puasa secara berselang sehari, yaitu puasa satu hari, tidak berpuasa satu hari, kemudian puasa lagi dan seterusnya. Puasa seperti ini lebih disukai Allah, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam pembahasan berikutnya.
( berlanjut..........................
Fiqih Sunnah®
           
 
                                                                                   

Tidak ada komentar: