Selasa, 11 September 2012

Pembacaan Hadits Ba'da Isya' 03092012

N A S E H A T
 
( lanjutan..........
Nasehat kepada pemimpin muslim yakni pemimpin dalam agama dan ilmu. Hendaknya seseorang selalu berusaha menjaga untuk selalu mendapatkan ilmu, karena mereka menjadi perantara antara rasul dengan umatnya, umat selalu berupaya untuk mendapatkan ilmu dari mereka dengan segala sarana.
 
Sarana pada saat sekarang ini -  Al-Hamdulillah – sangatlah banyak, berupa tulisan, kaset rekaman, ceramah langsung dan lain sebagainya, maka hendaklah selalu berupaya mendapatkan ilmu dari para ulama, lakukanlah dengan telaten dan tidak terburu-buru dalam menuntut ilmu, maka bisa jadi ia mendapatkan ilmu itu tidak sebagaimana yang disampaikan oleh gurunya. Allah telah membentuk adab Rasulullah SAW dengan adab ini, Allah berfirman,
 
"Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkan (didadamu) dan membuatmu (pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu".
(QS. Al-Qiyamah : 16-18)
 
            Karena pada waktu itu Rasulullah SAW terburu-buru mengikuti bacaan Jibril Alaihissalam, ketika beliau mendengarkan bacaan Al-Qur'an lalu membacanya, kemudian Allah berfirman, "Jangan engkau gerakkan lidahmu karena terburu-buru dengannya" yakni diamlah, jangan gerakkan lisanmu walaupun perlahan sampai Jibril selesai dari bacaannya, setelah itu maka bacalah.
"Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya".
(QS. Al-Qiyamah :19)
 
            Allah Ta'ala telah menjamin penjelasan Al-Qur'an yakni engkau tidak akan melupakannya, padahal yang sering terjadi ketika guru sudah selesai membaca, para murid terkadang lupa sebagian apa yang telah dibacakan. Akan tetapi Allah berfirman, "Kemudian Kamilah yang akan memperjelaskannya".
 
            Termasuk dalam nasehat kepada pemimpin muslim adalah tidak mengungkap aib mereka, kekeliruan, dan apa yang salah dari mereka, karena memang mereka tidaklah Ma'shum (terjaga dari kesalahan), terkadang mereka keliru, dan terkadang salah. Setiap anak Adam itu keliru dan sebaik-baiknya orang yang keliru adalah yang bertaubat, apalagi para penuntut ilmu, maka hendaknya mereka menjadi yang paling baik dalam menanggung kesalahan yang terjadi karena kesalahan gurunya, memperingatkan akan hal tersebut, karena berapa banyak orang yang mendapatkan manfaat dari muridnya, mereka memperingatkannya dari sebagian masalah, atas kesalahan keilmua, atau kesalahan perbuatan, dan kesalahan-kesalahan lainnya karena mereka adalah manusia.
 
            Yang terpenting adalah hendaknya tidak terlalu terfokus pada kesalahan seseorang, telah diriwayatkan dalam hadits, "Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya dan tidak masuk dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti orang-orang muslim, jangan mengungkap aib mereka, barangsiapa yang mengungkap aib saudaranya, maka Allah akan membuka aibnya walaupun ia dirumah ibunya", mereka ini adalah orang awam, maka bagaimana dengan para ulama!.
 
            Sesungguhnya orang-orang yang membicarakan kesalahan para ulama, dia bukan saja menjelekkan mereka, bahkan ia telah menjelekkan pribadinya, memjelekkan ilmu yang mereka bawa, juga menjelekkan syariat yang diperoleh darinya. Karena jika orang-orang tidak mempercayai para ulama, jika aibnya mereka bongkar yang terkadang aib itu hanya berdasarkan pandangan seseorang, kepercayaan mereka berkurang kepada para ulama dan dengan ilmu yang dimilikinya. Maka, sesungguhnya ini adalah perbuatan kriminal atas syariat yang mereka bawa dari sunnah Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam.
 
            Karenanya, termasuk nasehat Anda kepada pemimpin-pemimpin umat Islam adalah melindungi aib mereka, menutupinya dengan segala apa yang Anda mampu, tidak berdiam diri, bahkan memperingatkannya mereka, membahas bersamanya dan bertanya kepadanya, terkadang apa yang diambil darinya terdapat sesuatu yang tidak benar. Telah diambil dari kami dan selain kami sesuatu yang tidak benar, akan tetapi orang-orang – kami memohon kepada Allah keselamatan – jika mereka memiliki hawa nafsu, menyukai sesuatu dan mereka mengetahui salah seorang ahli ilmu yang diterima ucapannya oleh orang lain, kemudian ia menghubungkan ucapan itu kepadanya, kemudian ketika ditanyakan tentang ucapan yang dihubungkan itu, ia berkata, "Aku tidak pernah mengucapkan seperti itu". Atau terkadang seorang penanya keliru dalam ungkapan soalnya, padahal sudah dijawab sesuai dengan apa yang ditanyakannya, dan ia memahaminya sesuai dengan kemampuan dalam dirinya, maka terjadilah kekeliruan. Terkadang juga orang alim itu telah menjawab pertanyaannya dengan benar, tetapi sipenanya salah memahami jawaban yang telah disampaikannya, maka terjadilah kekeliruan.
 
( berlanjut ..........
SyarahRiyadhus Shalihin®

Tidak ada komentar: