Minggu, 23 September 2012

Pembacaan Hadits Ba'da Isya' 21092012

MEMERINTAHKAN  YANG  MA'RUF  DAN
MENCEGAH  YANG  MUNKAR
 
( lanjutan................
190.    Dari Abul Walid Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu ia berkata,
"Kami berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk selalu mendengar dan taat, baik dalam kesusahan atau lapang, baik dalam keadaan yang disenangi maupun yang dibenci. Bahkan terhadap perbuatan penguasa atas kami, dan kami berbaiat pula untuk tidak menentang pemerintah dari yang berhak, kecuali terbukti adanya pelanggaran yang jelas sesuai dengan dalil-dalail yang datang dari Allah Ta'ala, serta kami berbaiat untuk selalu berkata benar dimana saja kami berada, kami tidak takut terhadap celaan siapa pun dalam membela (agama) Allah"
(Muttafaq Alaih)
 
PENJELASAN
 
Penulis Rahimahullah berkata dalam riwayat yang dinukilnya  dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu Anhu, ia berkata "Kami berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mendengar dan taat dalam susah maupun  lapang, dalam keadaan senang  maupun dalam keadaan tidak senang dan mendahulukan (diri mereka) atas kami". Yakni para sahabat berbaiat kepada Rasulullah SAW untuk mendengarkan dan taat , yaitu kepada orang yang ditetapkan oleh Allah perkaranya, karena Allah Ta'ala berfirman,
 
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri  di antara kamu". (QS. An-Nisaa : 59)
 
            Telah kita jelaskan sebelumnya siapa yang dimaksud ddengan ulil Amri, telah kita sebutkan bahwa mereka ada dua kelompok, yaitu para ulama dan para penguasa. Mereka semua disebut Wulatul Amri (mengatur urusan), para ulama adalah pemegang urusan dalam ilmu dan penjelasan, adapun para penguasa, mereka adalah pemegang urusan dalam pelaksanaan dan kekuasaan. " ..... Kami berbaiat untuk mendengar dan taat", dikecualikan dari hal ini kemaksiatan kepada Allah Ta'ala, tidak boleh seorang pun berbaiat untuk ini. Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah. Karenanya, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu berkata ketika beliau menjabat sebagai khalifah, "Taatilah aku selama aku masih mentaati Allah dan Rasul-Nya, jika kau bermaksiat kepada Allah dan rasul-Nya, maka tidak ada ketaatan atasku pada kalian". Jika seorang pemimpin memerintahkan untuk bermaksiat, maka tidak boleh bagi seseorang untuk mendengar dan menaatinya, karena Raja dari segala raja adalah Allah Ta'ala; Tuhan Semesta Alam, tidak mungkin bermaksiat kepada pada Tuhan Semesta Alam hanya untuk menaati seseorang yang menjadi hamba-Nya. Karena setiap sesuatu selain Allah, mereka itu adalah milik dan hamba Allah, bagaimana mungkin seseorang mendahulukan ketaatannya pada mereka, daripada ketaatannya kepada Allah. Dengan begitu, dikecualikan dari ucapan 'mendengar dan taat', apa yang ditunjukkan oleh nash ini, bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada sang Khalik.
 
            Perkataan hadits, "Dalam kesulitan dan kemudahan". Yakni sama saja, apakah kami berada dalam kesulitan harta atau berada dalam kemudahan, wajib bagi kita semua, baik itu orang kaya maupun fakir, untuk menaati dan mendengar orang yang memegang urusan kita. Begitu juga apabila kita berada dalam keadaan senang maupun benci. Yakni, sama saja apakah kita sedang berada dalam keadaan benci terhadap hal itu, karena mereka memerintahkan sesuatu yang tidak kita sukai dan tidak kita inginkan, atau kita menyukai hal itu, karena mereka memerintahkan sesuatu yang sesuai dan cocok dengan kita. Yang terpenting, kita mendengar dan menaati dalam setiap kondisi, kecuali sesuatu yang sudah dikecualikan.
 
            Perkataan hadits, "Perbuatan mereka atas kami". Yakni jikalau sekiranya pemimpin itu mementingkan diri mereka dari rakyat dengan harta dan yang lainnya, dari hal-hal yang memperkaya dirinya sendiri, dan menghalangi orang yang mereka pimpin, maka wajib bagi kita untuk mendengar dan mentaatinya, tidak mengatakan kepada mereka, "Kalian telah memakan harta, merusaknya, dan memubazirkannya, maka kami tidak akan menaati kalian". Tapi kita katakan, "Kami hanya mendengar dan taat kepada Allah, Tuhan Semesta Alam. Walaupun kalian telah mementigkan diri kalian atas kami, walaupun kami tidak bertempat tinggal kecuali di gubuk, tidak tidur kecuali di tikar yang usang, sedangkan kalian tinggal di istana, menikmati tempat tidur yang paling baik, tetapi itu tidak penting bagi kami, karena semua itu hanyalah perhiasan dunia yang akan sirna. Tugas kami hanyalah mendengarkan dan taat, walaupun kami menemukan para pemimpin lebih mementingkan dirinya daripada kami.
 
( berlanjut ................
SyarahRiyadhus Shalihin®

Tidak ada komentar: